Korelasi Revolusi Industri 4.0 terhadap Pemasaran secara Digital pada Kawasan Industri Jababeka di Cikarang

Editor:

Oleh :
Raka Dhanendra Wicaksono
MMTek President Universit

Sebagai kota yang menjadi salah satu kawasan industri terbesar di Indonesia, menjadikan Cikarang, Jababeka sebagai area yang padat penduduk, terkhusus para pendatang maupun penduduk lokal yang bekerja di kawasan industri disekitar Cikarang, Jababeka. Kawasan Industri Cikarang diawali dengan dibangunnya PT. Jababeka Tbk pada tahun 1989 sampai tercatat di Bursa Efek Jakarta dan Surabaya pada tahun 1994, sehingga membuat kawasan industri Cikarang menjadi cukup berkembang sampai hari ini. Khususnya di kota Jababeka yang berjarak sekitar 35 km sebelah timur kawasan komersial Jakarta, 1.650 bisnis lokal dan internasional dari lebih dari 30 negara, termasuk Jerman, Belanda, Korea, Jepang, Taiwan dan lainnya, yang menjadi basis industri independen.

Hal ini diungkapkan oleh seorang ekonom Jerman, Profesor Klaus Schwab, yang awalnya mengusulkan gagasan revolusi industri 4.0, yang diramalkan pada bukunya yang berjudul “The Fourth Industrial Revolution” bahwa hal itu akan mengubah kehidupan manusia dan cara manusia bekerja. Selain itu, revolusi industri 4.0 menggunakan batas-batas antara dunia secara nyata dan digital yang mungkin dihilangkan, sehingga akan membawa perubahan besar di banyak industri di abad 21. Penggunaan teknologi baru di berbagai disiplin ilmu, termasuk kecerdasan bautan, robot, nanoteknologi, bioteknologi, printer 3D, kendaraan listrik, hingga pemasaran digital yang sudah mulai diaplikasikan di banyak perusahaan di Kawasan Industri Cikarang, Jababeka.

Dengan maraknya pengaplikasian teknologi di kebanyakan operasional industri, mengartikan bahwa teknologi digital yang ada saat ini tidak bisa ditolak dan hanya bisa diikuti arusnya. Seperti pemasaran digital, dimana digunakan sebagai strategi yang memanfaatkan teknologi digital untuk mengiklankan produk yang dihasilkan. Sebagai mahasiswa Magister Manajemen dari Universitas Presiden, fenomena ini dapat diamati pada penjualan produk yang sebelumnya hanya tersedia secara ekslusif di toko, namun kini transaksi dapat dilakukan secara online, bahkan pada barang-barang yang bernilai tinggi.
Dapat dilihat pada Wuling Air-ev, mobil produksi Wuling Motors yang berbasis listrik dengan ukuran dan fitur yang compact. Penerapan revolusi industri 4.0 pada proses produksi hingga pemasaran kendaraan listrik mungil ini dapat dilihat dari fitur dan antusiasme masyarakat. Ketertarikan masyarakat Indonesia akan kendaraan listrik terlihat menggebu-gebu sejak Agustus lalu pada saat pertama Wuling Air-ev dirilis ke pasaran, hingga mampu terjual lebih dari 4 ribu unit hingga artikel ini dibuat. Fitur yang kompleks namun compact ini dapat dilihat pada penyematan fitur cerdas seperti Internet of Vehicle (IOV) dan Wuling Indonesian Command (WIND). Dengan kemudahan yang sudah disertakan disetiap fitur dan komponen di dalam Wuling Air-ev, menjadikan target pasar Wuling Motors adalah anak muda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *