Bluebeach Nenia

Editor:

Oleh: Hasan Aspahani

TERAKHIR kali saya bertemu Nenia di perayaan kecil-kecilan pernikahan Bang Jon di rumahnya. Kami sempat berbincang sebentar, basa-basi tanya kabar dan apakah dia masih kerja di Nagata Plaza. Dia bilang dia sudah pindah bekerja di Penangsa.

Dia menyebut nama resort hotel yang langsung mengingatkan saya tentang kasino gelap itu. Bluebeach Resort.

Saya bertemu lagi dengannya di INN Cafe. Saya, seperti biasa datang bersama Yon, lurahnya hiburan malam di Borgam. Ada show Glenn Fredly. Nenia datang bersama seorang lelaki bertampang oriental. Saya lihat dia tak lagi sama dengan pertama kali saya bertemu dulu di kedai kopi, saat dikenalkan Bang Jon dulu.

Dia seperti sosok yang jauh dan liar. Dekat tapi tak terjangkau. Dia riang tapi tampak terasing dari keramaian. Dia merokok. Mungkin bukan dia yang berubah. Tapi saya yang dulu terlalu polos, dan kini saya melihat sisi dia yang lain, yang sebenarnya.

Saya dengar mereka – Nenia dan lelaki bertampang oriental itu – bercakap dalam Bahasa Inggris. Di hadapan saya Nenia dan lelaki itu tak menyembunyikan kemesraan. Artifisial. Saya berusaha ramah dan melihat pemandangan itu dengan wajar.

Kami bersapaan dan bersalaman. Dia memperkenalkan siapa laki-laki itu tapi saya tak terlalu jelas mendengar siapa namanya. Jack?

Jach? Semacam itulah. Saya sedang menikmati Glenn yang sedang membawakan Terpesona, hits debutnya bersama Funk Section. Saya tak pernah benar-benar suka sama Glenn, tapi beberapa lagunya mengingatkan pada banyak hal.

Malam itu Nenia pergi lekas. Si lelaki tampaknya tak menikmati Glenn. Ia menyempatkan menghampiriku.

”Masih punya nomorku, kan? Hubungi saya ya, saya mau ngomong.”
”Soal apa?”
”Telepon aja ya…” kata dia.
”Boleh saya ke Penangsa, ke tempatmu kerja?” tanyaku. Ini lebih menarik buat saya sebagai wartawan. Nenia bisa jadi pintu masuk ke dalam kasino itu, memenuhi rasa-ingin-tahu-ku.

”Boleh. Telepon aja dulu ya…” Dia segera berlalu.

Yon bertanya padaku apakah Nenia masih sama Bang Eel.
”Nggak tahu, Yon. Sudah nggak kayaknya.”

Saya dan Yon hendak meninggalkan INN Cafe, ketika serombongan tamu datang. Beberapa orang di antaranya seperti saya pernah lihat di pengadilan.

”Kayaknya itu orang-orang AKBP Pintor,” kataku pada Yon.
”Yang dua orang itu anggota tim pengacaranya,” kata Yon, menunjuk orang yang dimaksud.

Kami berselisih di pintu keluar. Seorang di antaranya mengenali saya.

”Wah, ini dia si wartawan hebat kita,” katanya.

”Oh, ini dia Abdurrauf itu ya?” kata temannya. Jarang sekali sekali orang menyebut bahkan sekadar tahu nama lengkapku. Cara dia menyebut nama saya dengan nama lengkap seakan mau bilang bahwa dia telah mencari informasi banyak tentang saya.

”Ah, mau kemana, Bung? Kita minum-minum dululah. Laku kan koran kalian hari ini?”
”Sudah dari tadi, Pak,” kataku. ”Terima kasih.” Saya mengendus aroma tak enak, panas dan berbahaya. Apalagi dia menyinggung soal koran. Terbakar juga emosi saya.

Seorang menarik lengan saya dengan kasar. Saya menepis. Nyaris terjatuh. Mereka tertawa-tawa. Seseorang mendorong saya. Yang lain menjegal kaki saya. Kali ini saya benar-benar terjengkang.

”Belum minum kok sudah mabuk,” kata orang yang mendorong saya tadi. Mereka terus tertawa. Saya tak kenal siapa. Seperti preman. Tampangnya kasar dan lengannya bertato.

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *