Mak Edi

Editor:

Oleh: Dahlan Iskan

Di Barat, Islam Nusantara dikenal karena Prof Dr Azyumardi Azra. Yang meninggal di Kuala Lumpur 18 September lalu. Salah satunya berkat bukunya yang terkenal ini: Jaringan Ulama. Khususnya ulama Timur Tengah dan Nusantara abad ke-17 dan 18.

“Mungkin sudah banyak orang yang menjelaskan soal kekhasan Islam di Indonesia sebelum itu.

Tapi yang dipercaya Barat hanya Mak Edi,” ujar Prof Dr Komaruddin Hidayat. Komaruddin adalah ulama, intelektual dan pemain golf kelas sufi. Prof Komar menerbitkan buku tentang bermain golf –ditinjau dari sudut spiritual.
Mak Edi yang dimaksud tidak lain adalah Prof Azyumardi Azra. Nama panggilan Edi berasal dari unsur

”Di” di bagian akhir nama pertamanya. Panggilan Edi muncul karena begitu banyak temannya yang dari Jawa yang kesulitan mengeja nama Azyumardi Azra.
Keluarga pun ikut memanggil Prof Azra dengan Edi. Tapi pakai kata

”Mak” di depannya: Mak Edi. Kependekan dari Mamak Edi. Itu sekaligus menandakan bahwa Prof Azra berasal dari ranah Minang.
Prof Azra lahir di Padang

Pariaman. Tahun 1955. Dua tahun lebih muda dari Prof Komaruddin Hidayat. “Saya kelihatan lebih muda karena main golf,” gurau Prof Komar.

Tapi kelihatan lebih muda itu ada ruginya juga. Prof Komar baru jadi rektor UIN Syarif Hidayatullah Ciputat, Jakarta, justru setelah juniornya itu.

Dua tokoh intelektual Islam itu sama-sama pernah jadi wartawan dan redaktur. Yakni di majalah Panji Masyarakat yang dipimpin ulama besar Buya HAMKA. Dua-duanya juga penerus kebijakan ”belajar Islam ke Barat”.

Komaruddin ke Ankara dan kemudian ke Connecticut Amerika Serikat. Prof Azra ke Columbia University, New York.

Di Columbia itulah Prof Azra meraih gelar doktor dalam ilmu sejarah. Disertasinya tentang jaringan ulama dunia. Lengkap dengan sejarahnya selama dua abad: 17 dan 18. Sampai pun ke Indonesia. Disertasi itulah yang kemudian diterbitkan sebagai buku. Jadilah buku itu sebagai literatur ilmiah yang sangat penting.

“Orang Barat hanya percaya yang ilmiah. Buku ini ilmiah sekali. Itu disertasi doktor. Dari universitas terkemuka di dunia pula,” ujar Prof Komar. Karya ilmiah dari universitas terkemuka. Barat pun mau mengakui dan memercayainya.

Banyak juga sebenarnya yang pernah menjelaskan soal Islam Nusantara ke dunia luar. Tapi umumnya tidak dalam format karya ilmiah.

“Yang banyak itu formatnya kutbah. Orang Barat tidak percaya kutbah,” tambahnya.

Di luar buku itu, Prof Azra dikenal sangat rajin membuat makalah. Begitu sering ia diundang seminar. Makalahnya selalu ditulis dengan serius. Islam Nusantara oleh Prof Azra dinarasikan secara ilmiah. Lalu jadi rujukan di Barat: ternyata ada negara dengan penduduk mayoritas Islam tapi bukan negara Islam. Dalam bahasa Inggris buku itu berjudul Islam in the Indonesian World.

Maka kerajaan Inggris memberikan gelar ”Sir” kepada Prof Azra. Nama penghargaan itu: Commander of the Order of British Empire.

Dengan gelar ”Sir” itu beliau berhak dimakamkan di Inggris. Beliau juga boleh keluar-masuk Inggris setara dengan bangsawan Inggris. Itu satu-satunya di Indonesia. Itu satu-satunya di luar negara-negara Persemakmuran di Asia. Prof Azra istimewa.

“Tapi kami tidak pernah menggunakan keistimewaan itu,” ujar Emily Azra, putri bungsunya. “Ayah juga tidak pernah menggunakan gelar Sir untuk diri beliau,” tambah Emily. Kalau ada yang pernah menuliskan gelar ”Sir” di depan nama Azyumardi Azra itu orang dari luar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.