Pendidikan dan Peradaban yang Berbudaya

Editor:

Selain kedua proklamator Indonesia, Ki Hajar Dewantara juga menjabarkan lebih lanjut bagaimana pendidikan dan kebudayaan adalah satu kesatuan utuh untuk mencapai peradaban, dan keduanya tidak dapat dipisahkan. Baginya, pendidikan merupakan landasan pembentukan peradaban bangsa, di mana sekolah menjadi tempat persemaian benih benih kebudayaan bangsa dan dunia. Pemikiran Ki Hajar Dewantara ini jelas terlihat dalam Asas Ketiga dari Asas Taman Siswa 1922, yang berbunyi, “Pendidikan hendaknya didasarkan atas keadaan dan budaya Indonesia.” Dengan berpegang pada kepribadian bangsa sendiri, kita mencari pola-pola kehidupan baru yang sesuai dengan perkembangan alam dan zaman, tetapi tetap memiliki pegangan yang kuat, yaitu kebudayaan bangsa.  Hubungan yang tidak terpisahkan antara pendidikan dan kebudayaan ini juga dijelaskan kembali dalam Asas Taman Siswa 1947: Asas Kebudayaan, di mana pendidikan diharuskan untuk memelihara nilai-nilai dan bentuk-bentuk kebudayaan nasional.

Sebagai upaya melestarikan dan mengembangkan kebudayaan nasional Indonesia, Ki Hajar Dewantara menawarkan teori Trikon, yang merupakan kependekan dari istilah kontinyu, konvergen, dan konsentris. Pertama, “kontinyu” berarti pelestarian kebudayaan asli Indonesia harus terus menerus dan berkesinambungan. Dalam pelaksanaannya, teori kebudayaan dilaksanakan dengan memasukkan mata pelajaran muatan lokal, melakukan upacara-upacara adat, mementaskan kesenian daerah, dan lain-lain. Kedua, “konvergen” dapat diartikan sebagai perpaduan antara kebudayaan nasional Indonesia dengan kebudayaan asing dengan tujuan untuk dapat memajukan bangsa Indonesia. Dalam proses pemaduan atau konvergensi ini dilakukan pemilihan dan pemilahan kebudayaan yang sesuai dengan kepribadian Pancasila, dan pemaduannya harus secara alami dan tidak dipaksakan. Ketiga, “konsentris” artinya dalam pergaulan dengan bangsa-bangsa lain di dunia kita harus berusaha menyatukan kebudayaan nasional kita dengan kebudayaan dunia, dengan catatan harus tetap berpegang pada ciri khas kepribadian bangsa Indonesia yang berdasarkan kepada Pancasila.

Melalui konsep Trikon ini, Ki Hajar Dewantara berharap pendidikan dapat membantu menciptakan masyarakat Indonesia yang tertib, damai, serta mengikuti kemajuan peradaban dan dapat berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia dengan tetap berpegang teguh pada kepribadian budaya bangsa Indonesia, yakni Pancasila. Dengan demikian, pendidikan nasional diharapkan dapat memajukan peradaban sekaligus menjunjung kebhinekaan.  (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.