Kehidupan di Balik TPAS Jalupang (1): Kepala Manusia, HP hingga Uang Jutaan Rupiah

Editor:

Cerita lain, yang kebalikan dari cerita penemuan uang, kata dia, ada temannya yang lain juga pernah menemukan kepala manusia. Kejadiannya terjadi sekitar tiga tahun lalu. Saat awal-awal ia menjadi pengepul sampah di TPAS Jalupang.

“Dulu-dulu pernah ada kepala orang. Pemulung yang lain pernah dapet kalung, terus di duit sekeresek 6 juta. Banyak cerita yang lain. Kalau saya pernah dapet beberapa hape,” beber Sumiyati.

Usai bercerita tentang penumuan uang hingga kepala manusia, tim redaksi KBE diajak oleh Sumiyat ke tumpakan tertinggi sampah di TPAS Jalupang. Dari atas tumpukan sampah ia menunjuk lokasi kediamannya di Desa Pangulah Utara. TPAS Jalupang lokasinya memang berada di Desa Wancimekar dan sedikit mendekati Desa Pangulah Utara.

Sumiyati juga memperlihatkan saung yang dibangun oleh para pengepul sampah. Saung itu dibangun di atas gunungan sampah. “Sengaja dibangun di sini buat berteduh kalau kepanasan,” kata dia.

Ia bercerita uang yang ia berhasil bawa pulang setiap harinya hanya sekitaran 30-40 ribu. Supaya terkumpul lebih banyak, biasanya ia menjualnya tiga hari sekali. Jika untung, bisa membawa uang Rp 110 ribu. Jika sedang apes, paling besar ia hanya bisa membawa pulang uan Rp 80 ribu hasil kerjanya selama tiga hari.

Pengalaman memakan dari sampah sudah menjadi hal yang lumrah baginya. Seperti mobil angkut sampah yang tiba, ia sambil mencari sampah botol plastik, sesekali jika masih ada makanan yang baginya layak, menurutnya bisa dikonsumsi dan Sumiyati mengaku belum pernah merasakan sakit sesudah memakan yang ia dapat dari sampah.

“Kayak sampah baru turun, ada jeruk di dalemnya. jeruk dikupas atau apa, gapapa dimakan biasa aja,” kata Sumiyati.  (gma/mhs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *