PPDB 2022 Amburadul, Ribuan Orang Tua di Bekasi Masih Gelisah Nasib Kelanjutan Pendidikan Anak

Editor:

KOTA BEKASI – Ribuan orang tua di Bekasi masih gelisah tentang kelanjutan pendidikan anak. Amburadulnya Pelaksanaan Penerimaan Siswa Baru (PPDB) Online 2022 tingkat SMP Negeri Kota Bekasi menyisakan kegelisahan orang tua calon peserta didik.

Ribuan orang tua di Bekasi masih gelisah. Mereka dilanda was-was terkait kelanjutan pendidikan anaknya.

Amburadulnya pelaksanaan PPDB Online 2022 telah memasuki pekan pertama Agustus masih menyisakan ribuan anak belum tertampung di sekolah negeri untuk mengikuti pendidikan formal. Inilah yang membuat Ribuan orang tua di Bekasi masih gelisah.

Alasan belum tertampungnya pun beragam, mulai dari regulasi yang simpang siur serta adanya dugaan alal-akalan penyelenggara pendidikan (Dinas Pendidikan dan pihak sekolah) dengan mengurangi kuota tersedia pada saat pelaksanaan PPDB secara online digelar.

Para orangtua banyak mengerumuni SMP Negeri guna memperoleh kuota bagi anaknya. Hal itu terpantau pada Jumat (5/8/2022).

Baca Juga: Mahasiswa Demo SMAN 2 Kota Bekasii, Minta PPDB Online Jalur Zonasi Dianulir

Pantauan di lapangan diantara sekolah terjadi di SMPN 2 Kota Bekasi yang beralamat di Jl. Chairil Anwar, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur.

Para orangtua rela duduk di teras mushola sekolah. Mereka sejak pagi hari telah hadir untuk menunggu kepastian pihak sekolah terkait kelanjutan anaknya untuk sekolah.

Salah seorang wali murid, Ridwan (38t) mengatakan dirinya sudah menunggu informasi dari pihak sekolah sejak satu pekan yang lalu.

Tetapi hingga saat ini pihak sekolah belum juga memberikan jawaban mengenai penerimaan peserta didik baru di SMPN 2 Kota Bekasi.

“Saya menunggu jawaban dari pihak sekolah sudah lama, tapi mereka pun tidak tahu kapan keputusan nya,” ungkap warga Kp. Rawa Semut, Kelurahan Margahayu, Bekasi Timur ini kepada awak media.

Baca Juga: Tak Percaya Sistem PPDB Online, Mahasiswa Demo ‘Selamatkan Pendidikan Ribuan Anak’ di Kota Bekasi

Ridwan mengungkapkan bahwa dirinya terpaksa bolak-balik ke sekolah tersebut guna mendapat kepastian.

Namun pihak sekolah kerap beralasan, mulai dari nama anaknya tidak terdaftar di list, kartu keluarga yang tidak terdetek, formulir pendaftaran tidak ada cap stampel panitia hingga yang terakhir regulasi belum kelar.

“Sudah sebulan berbagai balasan diberikan. Pertama identitas saya dipermasalahkan, kemudian nama anak saya yang semula dibilang ga ada, dan terakhir katanya menunggu keputusan dinas,” ujarnya menanyakan ini lembaga pendidikan atau arena permainan yang lempar alasan terus menerus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.