oleh

Sidang Perkara KDRT di PN Karawang, Saksi Tuding JPU Berbohong di Persidangan

KARAWANG – Sidang Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) antara pasangan Chan Yun Ching dengan Valencya di Pengadilan Negeri (PN) Karawang ditemukan keganjilan.

Pasalnya, didepan hakim ketua, Moh Ismail Gunawan, jaksa penuntut umum (JPU), Glendy Rivano disebut berbohong. Kasus ini juga sempat mendapat perhatian Komnas Perempuan karena dugaan kriminalisasi perempuan.

Dalam fakta persidangan, Hakim Ketua menanyakan perihal kehadiran saksi ahli kepada JPU. “Apakah saksi ahli bisa hadir dalam persidangan?,” tanya hakim ketua kepada JPU.

“Untuk saksi ahli, tidak bisa hadir yang mulia,” jawab JPU.

Namun Valencya langsung berdiri dan keberatan dengan pernyataan JPU soal saksi ahli.

“Izin yang mulia, saksi ahli ada bersama saya sekarang dan dia mengaku tidak pernah ada panggilan dari jaksa,” kata Valencya kepada hkim ketua.
“Coba tolong hadirkan orangnya,” tanya hakim ketua kepada Valencya.

Tidak berselang lama saksi ahli hadir dengan kondisi sedang hamil. Dari kehadiran saksi ahli tersebut, Hakim Ketua lalu mengklarifikasi ke JPU.

“Ini ada saksi ahlinya di sini, bagaimana ini kok bisa tidak dihubungi, tolong Jaksa segera hadir ke persidangan segera,” tegas hakim ketua dengan nada keras ke JPU.

Setelah itu, sidang diskor kurang lebih setengah jam terlebih dahulu menunggu JPU hadir dan mengklarifikasi soal saksi ahli yang tidak dihubungi.

Saat dimulai kembali, JPU yang sudah hadir mengakui dihadapan Hakim Ketua bahwa ada keterlambatan surat panggilan ke saksi ahli dari penyidik.

“Maaf yang mulia, ini sebenarnya ada keterlambatan surat panggilan ke saksi ahli dari penyidik,” jelas Glendy selaku JPU kepada hakim ketua.

“Sejak awal kami mencium ada yang aneh dari perkara ini. Apalagi klien saya sudah menyampaikan didepan majelis hakim saat sidang jika jaksa berbohong. Buktinya saksi ahli bisa kok dihadirkan oleh klien saya. Klien saya (Valencya) yang jadi korban KDRT tapi kenapa dilaporkan dan malah lebih dulu di sidang,” kata pengacara Valencya, Iwan, Rabu (27/10).

Iwan mengatakan, kliennya Valencya menuduh jaksa berbohong saat persidangan KDRT dengan terdakwa Chan Yun Ching. Saat itu jaksa tidak bisa menghadirkan saksi ahli dengan alasan tidak bisa dihubungi. Namun kenyataannya pihak korban bisa mendatangkan saksi ahli tersebut dan mengaku saksi ahli tidak pernah dihubungi jaksa.

“Hakim menegur Jaksa karena berbohong dan meminta saksi ahli dihadirkan,” imbuhnya.

Menurut Iwan, sudah tiga kali persidangan saksi ahli tidak bisa dihadirkan oleh jaksa dengan hingga kliennya terpaksa menghadirkannya. Kasus KDRT berbuntut panjang karena korban malah balik dilaporkan. Anehnya kasus saling lapor ini ditangani oleh sidang yang sama yaitu jaksa Glendy Rivano.

“Saya sudah pernah menanyakan kenapa sengketa suami istri ini ditangani oleh jaksa yang sama. Namun pihak kejaksaan mengaku karena jaksa satunya yang menangi kasus ini sudah pindah,” ungkapnya.

“Padahal kan jaksa itu banyak, kenapa hanya dia yang tangani dua perkara yang sama,” ujarnya.

Lanjut Iwan, kliennya melaporkan kasus KDRT oleh mantan suami, Chan Yu Ching. Akibat laporan itu piham Chan Yu Cing balik melaporkan kliennya. Namun anehnya kliennya yang lebih dahulu melaporkan tapi lambat diproses.
Malah klien kami yang lebih dulu menjalani persidangan. Sekarang tinggal menunggu tuntutan jaksa,” katanya.

Iwan mengatakan, kasus pelaporan yang dialami kliennya sudah mendapat respon dari Komnas Perempuan. Bahkan Komnas sudah meminta pihak kepolisian dan kejaksaan untuk menghentikan kriminalisasi perempuan.

Sementara itu Kepala Seksi Pidana Umum Kejari Karawang, Heri Prihariyanto ketika dikonfirmasi mengatakan, perkara KDRT tersebut pihak perempuan dan lelaki saling lapor dan sudah masuk persidangan. Namun terkait tudingan jaksa berbohong saat persidangan dia akan memanggil jaksa bersangkutan.
“Kami akan memanggil jaksanya kebenaran kabar itu,” pungkasnya. (rie/kbe)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *