oleh

Walaupun Covid-19 Memburuk, Inggris Tolak Pembatasan

COVID-19 kembali melanda Inggris. Kasus penularannya melonjak signifikan. Mereka yang tertular bukan lagi yang tanpa gejala atau sakit ringan. Banyak warga yang harus dirawat di rumah sakit (RS). Hal itu membuat sistem kesehatan di Inggris mulai kewalahan.

Selasa (19/10) angka kematian harian akibat Covid-19 di Inggris mencapai 223 orang. Itu adalah angka kematian harian tertinggi sejak Maret. Kasus penularan harian di negara Ratu Elizabeth II tersebut mencapai lebih dari 43 ribuan kasus.

Kantor Statistik Nasional Inggris pekan lalu memperkirakan bahwa 1 dari 60 orang di Inggris membawa virus Covid-19. Itu adalah level tertinggi sejak pandemi terjadi.

Para pelaku bidang kesehatan di Inggris (NHS) menekan pemerintah agar kembali memberlakukan pembatasan Covid-19. Harapannya, beban RS bisa berkurang. Saat ini rumah sakit mengalami tekanan yang cukup berat. Pemerintah harus bertindak secepatnya sebelum musim dingin tiba pada Desember nanti. Pada musim dingin, pasien non-Covid-19 juga biasanya ikut naik.

Kepala Konfederasi NHS Matthew Taylor mengungkapkan bahwa ketika para pejabat kesehatan melaporkan situasi memburuk, itu berarti antisipasi di beberapa titik tidak bisa terpenuhi. Misalnya, antrean di IGD, waktu respons ambulans, dan antrean rawat inap.

”Mana yang lebih baik, apakah bertindak lebih awal dan mengambil langkah yang tidak menghentikan perekonomian ataukah menunggu hingga semuanya memburuk dan kemungkinan berisiko harus mengambil langkah-langkah yang lebih ekstrem lagi,” tegas Taylor, Rabu (20/10) seperti dikutip Agence France-Presse.

Sayangnya, keinginan tersebut bertepuk sebelah tangan. Para menteri di kabinet PM Boris Johnson menolak. Inggris sudah mencabut lockdown dan berbagai kebijakan pembatasan lainnya pada Juli lalu. Pemerintah beralasan bahwa situasi saat ini masih lebih baik dibandingkan awal tahun. Inggris saat ini juga tengah belajar untuk hidup berdampingan dengan virus SARS-CoV-2. Berdasar data statistik, angka penularan tertinggi menimpa anak usia sekolah.

”Saya tidak melihat alasan untuk mengubah kebijakan sekarang. Ini adalah virus yang tengah kita pelajari untuk hidup bersama. Peningkatan memang mengkhawatirkan dan kami memantau data setiap hari,” tegas Menteri Urusan Bisnis Kwasi Kwarteng seperti dikutip BBC.

Menurut dia, kebijakan kampanye vaksinasi pemerintah justru dinilai berhasil. Saat ini Inggris juga menawarkan booster kepada mereka yang dianggap golongan rentan.

Beberapa pakar menilai, angka penularan saat ini disebabkan Inggris melakukan vaksinasi lebih dulu. Lansia dan petugas di garda depan sudah divaksin mulai Desember tahun lalu. Artinya, sudah lebih dari enam bulan. Padahal data menunjukkan, perlindungan vaksin terus menurun setelah sekitar setengah tahun.

Penularan Covid-19 juga belum terkendali di Brasil. Presiden Jair Bolsonaro dianggap dalang di balik memburuknya situasi di negara tersebut. Sejak pandemi, 600 ribu penduduk Brasil meninggal karena virus SARS-CoV-2.

Komite senat telah melakukan penyelidikan selama enam bulan dan merekomendasikan sembilan dakwaan kepada Bolsonaro. Penyelidikan tidak hanya terkait Covid-19, tapi juga korupsi dan skandal lain yang terjadi pada era Bolsonaro. (bbs/bbc/afp/rc/kbe)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *