oleh

Terjebak di Kubangan Lumpur, Akses Jalan Makam Singaperbangsa Rusak Parah

KARAWANG – Jalan cagar budaya yang menghubungkan akses ke makam Adipati Singaperbangsa di Desa Sumurgede, Kecamatan Cilamaya Kulon dengan Makam Syeh Quro di Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemahabang, tidak bisa dilalui kendaraan pada Senin (20/9).

Jalan yang membentang antara Kecamatan Lemahabang, Tempuran, dan Cilamaya Kulon itu, kondisinya sangat memperihatinkan. Ketika hujan turun, kendaraan roda empat dipastikan tak bisa melintas. Begitu pun bagi pengendara roda dua yang perlu tenaga ekstra jika nekat melintas di jalur itu.

Kerusakan paling parah terjadi di jalan Sumurgede-Pulowideng. Tepatnya di Desa Jayanegara, Kecamatan Tempuran. Meski pun bukan menjadi akses utama menuju Makam Singaperbangsa, jalur itu menjadi satu-satunya tumpuan warga Desa Jayanegara untuk mencapai kantor pemerintahan desa.

Kepada KBE, Kepala Desa Jayanegara, Nawawi mengatakan, kerusakan di jalur Pulowideng-Sumurgede itu panjangnya hampir mencapai 1 kilometer. Ketika hujan, warga terpaksa berputar puluhan kilometer. Lantaran akses jalan itu sama sekali tidak bisa dilalui kendaraan.

“Saya sudah mengajukan permohonan ke Dinas PUPR, tapi belum ada respon. Bahkan, saya sudah lapor langsung ke bupati dan kemarin, Pak Wabup sudah tinjau kondisi jalan ini,” ujar Nawawi, saat diwawancara KBE, Senin, (20/9) di ruang kerjanya.

Kades yang baru menjabat lima bulan di Desa Jayanegara ini mengatakan, selama menjabat dia sudah banyak merogoh kocek pribadi untuk melakukan tambal sulam dan pengarugan di jalan tersebut.

Kata Nawawi, jalan tersebut menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Karena tidak bisa dibangun dengan anggaran dana desa. Maka dari itu dirinya kerap kali merogoh kocek pribadi untuk pengarugan sementara ketika hujan.

“Apa lagi kalau panen, petani dan masyarakat menjerit pak. Kalau jalan ini tidak bisa dilewati, ya harus mutar jauh lewat kota. Itu puluhan kilo muternya,” katanya.

“Selama ini ya pakai uang pribadi untuk pengarugan, kalau hitung-hitung ya sudah banyak, mungkin jutaan rupiah,” imbuhnya.

Kades yang berprofesi sebagai tukang galon isi ulang ini juga menggambarkan kondisi terkini jalan tersebut. Karena tekstur tanahnya yang labil, ketika hujan turun membuat tanah menjadi lebur. Alhasil, lumpur pekat yang mengular sepanjang ratusan meter itu, menyulitkan pengendara untuk melintas.

Tak hanya itu, bekas kendaraan berat yang mengangkut padi hasil panen para petani. Membuat lubang-lubang yang cukup dalam disana. Kondisi itu membuat kerusakan di jalan ini semakin parah dan sulit untuk dilintasi.

“Saya sangat berharap, hasil peninjauan Pak Wabup kemarin ditindaklanjuti. Jangan sampai, masalah ini dibiarkan berlarut-larut,” harapnya.

Di sisi lain, Ahmad petani setempat mengaku sudah sejak lama menjadi korban kerusakan jalan itu. Kata Ahmad, ketika panen di musim hujan, biaya operasional menjadi lebih mahal. Karena akses keluar masuk padi sulit dilakukan.

“Kami petani mohon sama pemerintah, cepat-cepat perbaiki jalan di Dusun Pulowideng (Desa Jayanegara-Tempuran) soalnya kalau musim panen kami petani yang dirugikan,” keluhnya. (wyd/mhs/ygi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *