oleh

Ihsanudin: Bangkitkan Ekonomi Umat, Pemprov Jabar Jangan Terlalu Banyak Seremonial

BANDUNG- Bulan Ramadan merupakan momentum yang paling strategis bagi umat Islam untuk memperbaiki dan bahan introspeksi diri setelah melihat berbagai kekurangan yang telah dialami pada masa lalu. Juga momentum untuk membangkitkan ekonomi umat.

Anggota DPRD Jabar Ihsanudin M,Si meminta Pemprov Jabar agar peduli pada upaya membangkitkan ekonomi umat. Jangan sampai kebijakan-kebijakan ekonomi hanya berbentuk seremonial dan tidak menyentuh pada upaya pemberdayaan umat.

Dijelaskan Ihsanudin, ekonomi umat seharusnya lebih bergerak saat momentum Ramadan dan pemerintah serius memfasilitasnya.

“Fakta menunjukkan, para pelaku ekonomi meraih pendapatan besar atas kehadiran bulan suci Ramadan.   Tak sedikit di antara umat manusia yang berpuasa ataupun tidak, dari barisan muslim ataupun umat lainnya, merasakan manfaat besar dari kehadiran Ramadan yang tersirkulasi atau terdistribusi secara menyeluruh, mulai dari wilayah perkotaan hingga perdesaan,” paparnya.

Anggota dewan dari Dapil Karawang Purwakarta ini juga menjelaskan, tak dapat disangkal, roda ekonomi benar-benar tampak hidup selama bulan suci ini. Tingkat pendapatan yang menaik tajam dan hal ini berbeda bila diperbandingkan dengan bulan bulan lainnya.

Ekonomi Syariah 

Menurut Ihsanudin, Ramadan adalah bulan ekonomi syariah. Bulan di mana manusia bisa jernih berpikir dan bertindak sehingga dakwah-dakwah tentang manusia yang bersahaja dalam bingkai ekonomi syariah sangat dekat dengan perilaku manusia-manusia Ramadan.

Ditambahkan Ihsanudin, Ramadan menjadi bulan di mana manusia bersemangat menjalankan perintahperintah Tuhan tanpa banyak bertanya alasan di baliknya.

Pada Ramadan manusia tidak atau mungkin kurang mengedepankan hitungan-hitungan costbenefit material. Pada bulan ini manusia mengedepankan hitungan cost-benefit spiritual, sebagai kompensasi dari kerakusan pada bulan di luar Ramadan atau memang sebuah kesadaran yang tulus.

“Kita perhatikan, perilaku sedekah, infak dan zakat meningkat cukup dramatis pada bulan ini. Di sinilah, bulan Ramadan menjadi momentum lahirnya semangat dan kesadaran umat muslim untuk melakukan aktivitas ekonomi sesuai ajaran agamanya— menanggalkan riba, menjauhi gharar, maysir, tadlis, ihtikar dan lain sebagainya. Sebab, implikasi puasa tidak saja berdimensi ibadah spiritual, tetapi juga mengajarkan akhlak horizontal (mu’amalah), khususnya dalam bidang bisnis,” terang mantan aktivis PMII ini.

Ihsanudin juga berharap pesan implisit Ramadan patut dijadikan masukan dalam membangun perekonomian umat dan bangsa ke depan.

Pembangunan harus dimulai dengan membangun nilai-nilai ekonomi syariah dalam kehidupan. Pemberdayaan sumber daya rakyat berdasarkan nilai-nilai Qur’ani harus diprioritaskan.

“ Gagasan negara sejahtera dapat terwujud, apabila pembangunan fisik dan ketaqwaan harus berjalan seimbang. Inilah model pembangunan ekonomi yang ideal. Selain factor faktor produksi, tingkat ketakwaan juga merupakan “driving force” pembangunan ekonomi umat,” paparnya lagi.

Pada bagian lain Ihsanudin menegaskan, hadirnya ramadan diharapkan mampu menjadi spirit kebangkitan ekonomi umat, khususnya di Jawa Barat. Dan Pemprov Jabar harus memiliki kebijakan yang pro ekonomi umat. (shn)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *