Karyawan Suzuki Teriak Tuntut Kesejahteraan

TAMBUN SELATAN – Aksi unjuk rasa buruh PT Suzuki Indomobil Motor (SIM) menuntut kesejahteraan belum menemui titik temu. Pimpinan Unit Kerja (PUK) perusahaan itu merasa ada diskriminasi terhadap aktivitas mereka belakangan ini pasca aksi.

Hal itu dikatakan Ketua PUK SP-AMK FSPMI PT SIM, Heru Wibowo. Pekerja saat itu membawa sejumlah tuntutan kepada pihak perusahaan. 

Tuntutan yang pernah dilayangkan pekerja adalah masalah selisih upah sektoral masuk dalam perhitungan. Kemudian, masalah pesangon atau dana pensiun. 

Ketiga, perihal saldo plafon pengobatan yang layak. Ketiga hal itu bagi mereka dirasa kurang. Aksi unjuk rasa mereka gelar sebanyak 2 kali, pada 5 Juli 2019, dan 27 Juli 2019.

“Setelah selesai aksi pergantian manajemen, perjalannya manajemen baru merasa teranggu. Tujuh pengurus PUK dikenai SP, 2 di antaranya SP-2. Padahal aksi kita legal dan sudah sesuai aturan,” kata dia ketika diwawancarai beberapa waktu lalu.

Para anggota PUK yang berjumlah total 3.362 agak sulit meminta izin ketika ada agenda serikat.

“Perangkat dipersulit ketika ada agenda organisasi di luar. Buat surat dispensasi, alasan ABCD,” ucap dia. 

Meski telah memenuhi syarat sesuai Perjanjian Kerja Bersama (PKB), kata dia, di loket kadang buruh dipilih-pilih lagi. Mana yang bisa ikut kegiatan di luar, mana yang tidak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *