Refleksi 73 Tahun, Mengapa Alumninya Ingin HMI Bubar

JIKA permintaan pembubaran HMI disampaikan alumni HMI di forum ilmiah LIPI, ini tanda gawat. Apalagi ia bukan orang sembarangan, siapa dia?.

Gus Dur pernah menyebut namanya dalam pernyataannya yang sangat terkenal.

“Ada tiga orang yang sangat saya hormati di Indonesia, Quraish Shihab dan Nurcholish Madjid, yang ketiga saya gak mau kasih tahu.” ungkap Gus Dur dalam acara “Tribute to Prof. Dr. M. Quraish Shihab” di Kampus UIN Jakarta, tahun 2009.

Ya, orang itu biasa dipanggil Cak Nur, mantan Ketua Umum PB HMI yang juga alumnus Gontor. “HMI sebaiknya dibubarkan saja, agar tidak menjadi bulan-bulanan dan dilaknat”, kata Nurcholish Madjid dalam Seminar Kepemimpinan dan Moralitas Bangsa di Auditorium LIPI, Jakarta, 13 Juni 2002.

“Ternyata perkaderan HMI tidak semuanya membuahkan hasil yang baik, memang banyak kader HMI yang bersih (mister clean), tapi Koruptor juga banyak dari HMI,” lanjut Nurcholish Madjid di forum itu.

Pernyataan Nurcholish Madjid itu direspon serius Almarhum Agussalim Sitompul dengan menulis buku berjudul “44 Indikator Kemunduran HMI.”

Diantaranya 44 indikator itu: pola perkaderan dan manajemen organisasi yang ketinggalan zaman, kurang visioner, memudarnya tradisi intelektual, tidak punya gagasan atau karya untuk masyarakat, kehilangan strategi perjuangan, daya kritis menurun, kehilangan kekuatan batin.

Karena tidak serius diobati, HMI sekarang makin loyo. Di era digital, HMI tidak hadir dengan asyik di telepon genggam setiap orang. Laporan keuangan ke donator tidak ada. Website HMI juga tidak memuat artikel mencerahkan dan partisipasi publik.

Internet, media sosial, metodologi penelitian tidak digunakan HMI untuk memahami apa yang akan dan sedang terjadi. Padahal banyak alumnus HMI yang dikenal sebagai ilmuwan dan praktisi survei seperti Saiful Mujani, Marbawi A Katon, Burhanuddin Muhtadi, M. Qodary, Andrinof Chaniago, Hasan Nasbi, Djayadi Hanan, Veri M Arifuzzaman, Muslimin, Adjie Alfarabi dan banyak sekali.

Karena tidak punya kemampuan “listening skills” di media sosial, HMI lebih banyak mendengar bisikan pejabat dan konglomerat ketimbang jeritan rakyat.

HMI juga belum mampu membentuk tim media sosial untuk mengawasi kekuasaan. Anggaran Rumah Tangga HMI yang jadul tidak memungkinkan HMI memasukkan tim media sosial dalam struktur resmi organisasi.

Di setiap pelatihan saya meneriakkan ini, namun tak direalisasikan. Sehingga di Pengurus Besar, Badko, seluruh cabang tidak ada agenda bulanan untuk mengevaluasi pengelolaan media sosial.

Seharusnya mudah sekali bagi HMI membuat konten digital berdasarkan riset, dan menyebarkannya sesuai target, tapi itu dilupakan, ada yang memulai seperti Lapmi HMI Ciputat, Lapmi HMI Yogya namun belum maksimal karena minim dukungan.

Banyak sekali modal HMI, utamanya soal posisi sosial politik, SDM andal, alumnus, independensi. Sayang belum dimaksimalkan untuk bela negara dari oligarki, keserakahan dan bela dunia dari ketidakadilan global.

MODAL HMI BESAR, NYALI KECIL

HMI didirikan di ruangan kelas STI, tanpa pengeras suara, penerima tamu, tanpa spanduk, makanan ringan, tari-tarian, sambutan tokoh-tokoh, ini murni inisiatif mahasiswa. Peristiwa itu terjadi 73 tahun lalu, tepatnya 5 Februari 1947 oleh Lafran Pane dan kawan-kawannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *