Kementan Tegaskan Program Tanam Bawang Putih Tetap Jalan

Editor:

“Khusus untuk bawang putih tetap ada kewajiban 5% produksi. Hal itu tidak hilang. Hanya saja, pelaku usaha diberikan haknya dulu berupa RIPH, baru kita tagih kewajibannya” papar Anton panggilan akrab pria asal Pamekasan ini.

Selain itu Pemerintah akan kembali mengevaluasi realisasi tanam oleh importir dalam waktu dekat ini. “Jadi kami tetap akan mengevaluasi pelaksanaan wajib tanam dan produksi perusahaan-perusahaan yang sudah dapat RIPH tahun 2019 lalu. Jika sudah melewati batas waktu, maka akan kami berikan sanksi sesuai aturan” tegasnya.

Anton pun mengimbau agar semua stakeholders bawang putih dapat bergabung dalam satu wadah asosiasi, sehingga aspirasi menjadi satu suara untuk kebaikan bersama dan untuk kepentingan nasional.

“Adanya kewajiban tanam dan produksi bawang putih jangan dianggap berat, karena saat ini sudah lebih dari 50% perusahaan bisa memenuhi kewajibannya. Ini investasi jangka panjang. Pengusaha diminta untuk bersatu dan saling konsolidasi di internal terutama terkait dengan volume pengajuam impornya” tambahnya.

Seperti diketahui, kebutuhan nasional bawang putih setiap tahunnya sekitar 500-550 ribu ton sedangkan pengajuan RIPH bisa mencapai 1 juta ton setiap tahunnya. “Ini tantangan bagi asosiasi, bisa tidak mengajukan rekomendasi impor sesuai dengan kebutuhan nasional kita” tantang Anton.

Terkait dengan adanya keluhan dan kesulitan yang dilontarkan oleh Pusbarindo dalam menyediakan sertifikat GAP dengan kapasitas produksi, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura, Yasid Taufik, menegaskan kembali urgensi dari GAP untuk menjamin produk yang masuk dan dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia adalah yang bermutu dan juga aman.

“Sejak dikeluarkannya Permentan 16 tahun 2017, kita sudah mensyaratkan sertifikat GAP dengan Kapasitas Produksi yang sesuai dengan pengajuan impornya. Hal ini penting untuk dapat diketahui dan mudah ditelusur balik apakah produk yang diimpor berasal dari kebun-kebun yang teregistrasi” tegasnya. Indonesia memiliki defisit perdagangan yang sangat besar dengan China sehingga bapak Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, bertekad untuk mendorong ekspor tiga kali lipat dengan melibatkan semua pelaku usaha.

“Jadi selain mengimpor, kita menghimbau agar para importir bisa sekaligus memanfaatkan peluang ekspor dengan negara mitra. Pak Menteri ingin menggugah rasa nasionalisme kita semua dengan bersama-sama mendorong ekspor nasional” tutup Yasid. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *