Butuh Jurus Baru

SEBENARNYA saya enggan menulis soal ulang tahun (Ultah) ke-20 Radar Cirebon. Tapi ada beberapa orang yang “setengah memaksa” bertanya tentang Radar Cirebon dan bisnis media pada umumnya. Akhirnya saya kelupaan juga, menjawab sejumlah pertanyaan yang saya tahu.

Misalnya pertanyaan seperti ini: Dalam momen Ultah ke-20 Radar Cirebon tahun ini, pesan apa yang Anda tekankan secara internal? Juga eksternal?

Berbagai surat kabar mapan di berbagai ibukota provinsi kembang kempis hidupnya. Bagaimana Anda melihat prospek surat kabar ke depan? Bagaimana pula dengan online? Apakah Anda optimistis dengan media yang Anda kelola? Pertanyaan-pertanyaan itu berat sekali.

Yang pertama kepada eksternal saya selau sampaikan, hingga saat ini media yang masih terpercaya adalah media cetak. Bisa koran, majalah, atau tabloid. Itu dibandingkan dengan online, media sosial (medsos) dan media digital lainya. Terlalu banyak aturan dan tuntutan yang membuat koran harus terpercaya. Karena kepercayaan pembacalah yang menjadi modal utama media cetak.

Sebagian masyarakat kita masih belum percaya seratus persen bila belum membaca surat kabar. Walau berita tersebut sudah berseliweran di media online dan medsos. Dari segi aktualitas dan kecepatan, media cetak memang kalah dengan online, medsos, dan televisi. Tapi dari segi kedalaman masih milik media cetak.

Khusus online berita, memang masih belum bisa diandalkan. Misalnya dari segi pendapatan. Koran masih dominan. Walaupun juga turun. Tapi online masih kesulitan untuk hidup. Karena kesulitan pendapatan. Wajar kalau sulit mengembangkan diri sendiri.

Apalagi soal kepercayaan pembaca, seperti saya sampaikan di atas, masih didominasi koran. Ditambah banyak dan gampangnya membuat online berita semakin sulit diverifikasi layak baca. Akhirnya justru memudarkan tingkat kepercayaan masyarakat.

Kedua ke internal. Saya selalu menekankan harus terus mengikuti perubahan. Semua tahu perubahan begitu cepat dan dahsyat. Kalau kita tidak ikut dalam perubahan itu maka kita akan tergilas. Setidaknya akan tertinggal. Kita pun harus ikut di jalur perubahan itu. Apa pun risikonya. Karena kalau di luar jalur atau bertahan dengan konvensional yang kita miliki, suatu ketika kita hanya menjadi penonton.

Walaupun harus ikut arus perubahan, jangan meninggalkan potensi-potensi yang kita miliki. Justru potensi-potensi itu menjadi modal utama perubahan. Tentang sejumlah koran yang kembang kempis, saya kira ini banyak faktornya. Mungkin lupa regenerasi. Mungkin juga hanya mengandalkan jurus lama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *