Jadi Menteri Agama, Fachrul Razi Pernah Dipecat Gusdur dan Memecat Prabowo

Editor:

Beberapa posisi strategis di militer sempat diduduki oleh Fachrul Razi. Dia pernah menjadi Komandan Brigade Infanteri Lintas Udara 17 Kujang 1 Kostrad, kemudian Wakil Asisten Operasi KSAD, Kepala Staf Daerah Militer VII/Wirabuana, dan Gubernur Akademi Militer (1996—1997).

Tidak hanya itu, Fachrul juga sempat menjabat sebagai Asisten Operasi Kepala Staf Umum ABRI (1997—1998), lalu Kepala Staf Umum ABRI (1998—1999), dan Sekretaris Jenderal Departemen Pertahanan (1999) serta Wakil Panglima TNI (1999—2000).

Setelah pensiun dari tentara, Fachrul aktif di bidang bisnis dan sosial.

“Yang jelas saya purnawirawan TNI, saya mengelola bisnis, kemudian bidang sosial dan agama,” kata Fachrul.

Fachrul Razi sempat menjabat Presiden Komisaris PT Central Proteina Prima (CP Prima) dan Komisaris Utama PT Antam Tbk. sejak 2015.

Ia juga menjadi komisaris di PT Toba Sejahtera Group milik Jenderal TNI (Purn.) Luhut Binsar Panjaitan.

Pemecatan Prabowo

Fachrul Razi merupakan salah satu jenderal TNI yang merekomendasikan pemecatan Letjen TNI Prabowo Subianto sebagai Pangkostrad pada era Reformasi 1998.

Ketika itu Fachrul menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Kehormatan Perwira (DKP). Lembaga ini dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Pangab (Wiranto) Nomor Sekp/533/P/VII/1998 tanggal 14 Juli 1998.

Sementara, Ketua Dewan Kehormatan Perwira Jenderal TNI Subagyo Hadi Siswoyo, Sekretaris Letjen TNI Djamari Chaniago, dan anggotanya adalah Letjen Susilo Bambang Yudhoyono, Letjen TNI Yusuf Kartanegara, Letjen TNI Agum Gumelar, dan Letjen TNI Ari J. Kumaat.

Terkait hubungannya dengan Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang kemarin ditunjuk sebagai Menteri Pertahanan oleh Presiden Jokowi, Fachrul menilai hal itu memang bidangnya.

“Saya kira tidak apa-apa karena memang bidangnya dia,” ucap Fachrul.

Ia mengaku hubungannya dengan Prabowo tidak ada masalah dan biasa-biasa saja.

“Saya dengan Pak Prabowo biasa-biasa saja, ketemu peluk-pelukan, makan sama-sama, tidak ada yang aneh dalam sistem yang terbangun karena baik masalah kedinasan maupun pribadi tidak terganggu,” katanya.

“Kalau saya tidak setuju dengan komandan, ya, saya katakan tidak pas. Akan tetapi, tidak membuat hubungan saya jadi jelek,” tukas dia. (ant/hyt)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *