KH. Sofwan Abdul Ghoni Jadikan Ponpes Baitul Burhan Jarakah Paling Berkembang di Jawa Barat

KARAWANG- Di Jarakah Kecamatan Tempuran ada pesantren megah dengan ribuan santri ‘penerang’ kehidupan masyarakat sekitar. Itulah Ponpes Baitul Burhan di bawah asuhan KH Sofwan Abdul Ghoni atau biasa dipanggil Ajengan Wawan.

Saat ini Ponpes Baitul Burhan di Jarakah masuk 4 besar dalam kategori pesantren dengan tingkat perkembangan tercepat di Jawa Barat. Perkembangan pesat ini tidak lepas dari asuhan Ajengan Wawan yang dengan penuh dedikasi menyebarkan ilmu agama, berdakwah dan membangun pendidikan Islam di Kabupaten Karawang.

Kehidupan pesantren sudah sangat familiar buat KH. Sofwan Abdul Ghoni, karena sejak kecil ia tinggal di lingkungan pesantren.

Selama menjadi santri di beberapa pesantren, Ajengan Wawan bisa terlibat kajian ilmu-ilmu alat secara khusus yang lebih diperdalam. Namun demikian bukan berarti cabang-cabang ilmu keagamaan lainnya tidak dipelajari olehnya. Seperti ilmu tauhid, fiqih, tasawuf, mantik, dan lain sebagainya. Ajengan Wawan saat menjadi santri termasuk santri yang cerdas dan kuat hafalannya.

Sehingga untuk menhafal kitab Jurumiyah, Yaqulu, Imriti, dan Alfiyah ia relatif lebih cepat dibandingkan dengan rekan-rekannya. Tidak hanya hafal matan-nya, ia juga memahami makna dan penjelasan dari setiap kata dan kalimatnya.

Hanya dalam kurun waktu empat tahun setengah, kemampuannya dalam ilmu-ilmu alat sudah mumpuni, begitupun cabang ilmu-ilmu yang lain.

Pondok Pesantren Baitul Burhan yang kini berdiri dengan masjidnya yang megah di Jarakah Tempuran dibangun pada akhir tahun 1999. Tepatnya di Kampung Jarakah Desa Lemahduhur Kecamatan Tempuran, Karawang.

Menurut Ajengan Wawan, nama Baitul diambil dari nama depan Ponpes Baitul Hikmah Haur Kuning. Yaitu pesantren pertama Ajengan Wawan menimba ilmu. Kemudian Burhan diambil dari nama Ponpes Miftahul Huda Al-Burhani, yaitu ponpes milik ayahnya di Plered Purwakarta.

Ponpes Baitul Burhan awalnya berdiri di tanah seluas 1240 m 2 dan hanya memiliki lima asrama tiga diantaranya asrama putra dan dua asrama putri, satu majlis dan satu rumah kiai yang letaknya diantara asrama putra dan putri.

Tipe bangunan yang juga ditemukan di pesantren lain pada umumnya. Namun jika kita biasa menemukan masjid sebagai pusat pendidikan di lingkungan pesantren, tapi tidak dengan Ponpes Baitul Burhan ini. Masjid yang jaraknya tidak terlalu jauh dari lingkungan pesantren dijadikan tempat untuk shalat berjamaah atau acara-acara keagamaan lainnya.

Cikal bakal berdirinya Ponpes Baitul Burhan diawali dari hijrahnya Ajengan Wawan dari Plered ke kampung istrinya di Jarakah Desa Lemahduhur Tempuran.

Saat tinggal di Plered Ajengan Wawan menjadi salah satu pengajar di Ponpes Miftahul Jannah, yaitu ponpes milik ayahnya KH. Burhanudin. Sementara Ustadzah Imas adalah salah satu santri putri di pesantren itu, yang notabene adalah santrinya juga.

Kemudian Ajengan Wawan  memutuskan untuk hijrah ke Karawang. Di tempat yang baru untuk sementara ia bersama anak dan istri tinggal di rumah mertuanya yaitu H. Dasman. Semangat dakwahnya semakin berkobar menanamkan nilai-nilai keislaman.

Kurang lebih selama setahun sejak hijrah dari Plered ia beradaptasi dengan lingkungan dan bersosialisasi dengan masyarakat, melakukan pendekatan kepada tokoh agama dan tokoh masyarakat.

Kemudian atas dukungan dari keluarga dan keinginannya untuk membuat lembaga pendidikan Islam sehingga kegiatan dakwah yang selama ini dilakukan di tempat-tempat terpisah bisa disatukan dalam satu tempat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *