Boros dan Berpotensi Rugikan Negara

Editor:

“Bahkan PRB juga kurang promosi, masyarakat luar ingin sekali tahu dimana saja tempat oleh-oleh khas Bekasi, mereka tidak tahu harus mencari kemana?,” bilang dia.

Sementara itu, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Bekasi sangat menyayangkan adanya anggaran yang harus dikeluarkan pelaku UMKM yang notabene binaan dinas terkait.

“Kami sangat menyayangkan sikap event organizer (EO) yang memungut biaya kepada pelaku UMKM,” kata Ketua Kadin Kabupaten Bekasi, Obing Fachrudin, kemarin (23/9).

Seharusnya, bagi pelaku UMKM yang ingin ikut kegiatan PRB bisa digratiskan. “Ya bagaimanapun kegiatan ini harus membawa manfaat kepada para UMKM agar mereka bisa terus menggeliatkan roda perekonomian,” tegasnya.

Jika dipungut biaya, sambung Obing, adanya kegiatan PRB tidak pro terhadap dunia UMKM di Kabupaten Bekasi. “Hanya bisnis saja dan kegiatannya tidak pro untuk mendorong UMKM geliatkan perekonomian lokal,” tandasnya.

Sekedar diketahui bersama, pelaksanaan PRB sudah digarap CV Keiza Pratama Kreasi (KPK) selama tiga tahun berturut-turut. Anggaranya pun naik per tahun.

Tahun 2017, KPK menang lelang dengan nilai kontrak sekitar Rp 314 juta. Nilai tersebut untuk pembiayaan penyediaan stand kecamatan dan stand sekda dengan jumlah 26 stand, termasuk biaya lighting dan panggung.

Selanjutnya, nilai kontrak Rp329 juta lewat APBD tahun 2018 kembali dimenangkan KPK. Total 67 stan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), 23 stan kecamatan, tiga BUMD, serta puluhan industri pengrajin dan pelaku usaha multi produk baik berskala besar maupun usaha mikro, kecil, dan menengah.

“Setiap mengunjungi PRB, kita mesti siapkan uang lebih. Karena khusus buat parkir kendaraan saja sudah Rp5 ribu, ditambah Rp5 ribu lagi biaya tiket masuk dewasa dan anak diatas 5 tahun. Penyelenggaranya kurang profesional sepertinya,” keluh Iman, warga asal Sukatani, saat ditemui di lokasi, Jumat (20/9) malam.

Selain mahalnya biaya parkir dan masuk, sambung dia, setelah masuk ke dalam semua tampak biasa saja, monoton seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Jadi enggak ada gregetnya sama sekali. Kalau saya cukup sekali ini aja datang, besok-besok males mau ke sini lagi,” ujar Iman.

Pria kelahiran Bekasi ini mengungkapkan, keramaian pada momen pembukaan PRB 2019 hanya berpusat di depan panggung utama.

“Mungkin karena masih ada bupati dan para pejabat, makanya kelihatan ramai. Coba aja lihat tuh para pengunjung yang datang kebanyakan berpakaian dinas, warganya sedikit, hanya kalangan muda-mudi yang sekedar iseng mungkin,” tuturnya, seraya menunjuk ke arah panggung utama.

Disisi lain, pedagang UKM juga mengeluhkan biaya stand yang cukup mencekik. Mereka harus bayar sewa Rp 350 ribu per hari selama 10 hari penyelenggaraan atau Rp 3,5 juta

“Awalnya saya tertarik dagang disini karena hajat masyarakat Bekasi sekaligus pembangunan. Tapi kok sewanya besar ya, bukannya sudah ada anggaran pemerintah,” ketus pedagang makanan itu. 

Meski begitu, sambung dia, fasilitas kamar mandi di area PRB juga terbatas. “Ya gak sesuai aja sewa Rp 3,5 juta. Kamar mandi ada cuma jauh,” ujar ibu berjilbab itu. (uzi/hyt)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *