Boros dan Berpotensi Rugikan Negara

*PRB Dua Kali Sedot APBD 2019, Kadin Kecam UMKM Ditarik Biaya Sewa Stand

METRO CIKARANG – Pelaksanaan Pekan Raya Bekasi (PRB) 2019 yang digelar di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang Timur, disinyalir pemborosan anggaran. Terutama ditengah persoalan yang masih melilit Bekasi seperti pengguran dan kemiskinan.

Praktisi Event Organizer Indah Insiati mengatakan pemeran pembangunan harusnya menjadi pelaku usaha dan dinas di Kabupaten Bekasi menggerakan ekonomi rakyat.

Namun begitu, agenda tahunan ini sekedar formalitas yang tak mendapat respon simpatik dari warga. Dampak festival ini ini pun diragukan efektivitasnya.

“Ini kok kesannya boros banget, sudah dibiayai APBD sebesar Rp 340 juta. Pedagang UMKM dan dinas pun harus bayar sewa stand dengan nilai Rp 3,5 juta sampai Rp10 juta. Ini mewah banget kayak event internasional,” kata dia kepada Cikarang Ekspres, kemarin (23/9).

Indah menjelaskan pemborosan anggaran lantaran dua kali APBD dikerus. Pertama, Keyza Pratama Kreasi (KPK) selaku pentia event organizer PRB dapat kucuran dana Rp 340 juta.

Kedua, dinas maupun BUMD yang mengelola APBD di Kabupaten Bekasi diwajibkan bayar sewa stand.

“Ini sudah boros anggaran juga ada potensi kerugian negara karena double anggaran,” urainya.

Apalagi, sambung Indah, hajat PRKB yang hanya digelar di pelataran Dinas Pariwisata (Dispar) tak harus memungut biaya dari tempat lainnya.

“Kan lokasinya milik dinas. Sepertinya anggaran sebanyak itu sudah sangat cukup tanpa ada biaya sewa stand, kecuali digelar di hotel atau tempat mewah lainnya ya kemungkinan butuh tambahan,” tegasnya.

Adapun beban biaya yang harus dikeluarkan pada kegiatan PRKB dilingkungan Dispar seperti uang listrik dan air untuk para tenant. 

“Kalau menurut saya, jika terpaksa harus mengambil anggaran dari luar seperti UMKM dan dinas tidak sebesar itu,” ujarnya.

Meski begitu, Indah tidak menjabarkan anggaran yang sesuai kegitan tersebut
Hanya saja, ungkap dia, anggaran besar hanya dikeluarkan pada kegiatan dan penutupan PRB. Itu pun, besaran anggarannya cukup terasa jika mengundang artis nasional.

“Kalau untuk artis lokal membuka dan menutup kegiatan acara PRB, pengalaman saya artis lokal dibawah Rp 50 juta,” bebernya.

Indah mengatakan,  kegiatan PRB bisa mengutip anggaran yang cukup besar dari tenant swasta. Misalnya seperti hotel atau pengusaha swasta dari luar.

Jika peserta tenant dari UMKM binaan dinas itu bisa digratiskan. “Ya lucu juga para peserta tenant dari UMKM binaan dinas dimintai anggaran, seharusnya buat mereka gratis bukan bayar,” sindirnya.

Selain itu, Indah juga sangat menyayangkan, PRB selama ini kurang menarik perhatian para pengusaha swasta yang ada di Kabupaten Bekasi. Terutama para pengusaha hotel yang enggan membuka standnya di PRB.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *