Barang Ilegal Bebas Masuk Bekasi

Bea Cukai Dinilai Lemah Awasi, Potensi Kerugian Negara Tembus 20 Miliar Per Bulan

METRO JAKARTA – Hingga kini wilayah Marunda Center Terminal di Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi tak henti dijadikan tempat penyulundupan barang. Baik yang akan dibawa ke Malaysia atau yang dibawa dari Pelabuhan Pasir Gudong Johor Malaysia menuju Pelabuhan Tegar, Bekasi. Aktivitas ini dilakukan tanpa ada pengawasan ketat.

Seperti yang terjadi pada kemarin (12/9), Direktorat Reskrimsus Polda Metro Jaya mengamankan pelaku penyelundup barang tekstil ilegal dari China.

Selain bahan tekstil, polisi juga menyita sejumlah pakaian bekas hingga sepatu.

“Barang-barang ini semua masuk dari luar negeri dari China ke Malaysia dan ke Indonesia,” kata Kapolda Metro Jaya Irjen Gatot Eddy Pramono kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jakarta, kemarin (12/9).

Enam tersangka yakni PL (63), H (30), AD (33), EK (44), NS (47) dan TKD (45) pada akhir Juli dan Agustus 2019. Mereka ditangkap di 3 tempat berbeda yaitu di Pelabuhan Tegar Bekasi, di Senen Jakpus dan di gudang wilayah Ancol, Jakarta Utara.

Menurut dia, barang-barang tersebut diselundupkan melalui kapal laut melewati Pelabuhan Johor, Malaysia dan dibawa menggunakan truk ke Indonesia melalui jalur-jalur tikus yang saat ini masih diselidiki polisi.

Setelah melalui jalur tikus itu, sambung Gatot, barang-barang itu tiba di Kalimantan Barat dan dibawa lagi hingga ke Pelabuhan Tegar di Kabupaten Bekasi sebelum akhirnya diedarkan di Jakarta, Banten, Jawa hingga Papua.

Ada 6 truk berisi 438 gulungan tekstil, 259 koli balpres pakaian baru, bekas dan tas bekas hingga 5.668 koli sepatu berbagai merek diamankan polisi dan tentunya merugikan negara karena tidak membayar pajak masuk.

“Dari kegiatan ini kita melihat berapa jumlah nilai barang yang diselundupkan pelaku ke Indonesia. Hitung-hitungan kita lebih kurang Rp 9 miliar sekian atau hampir Rp 10 miliar (barang) ini sekali masuk (ke Indonesia),” kata Gatot.

“Kalau dihitung dari potensi kerugian pembayaran pajak yang harus mereka bayarkan dari nilai sejumlah itu itu lebih kurang Rp 5 miliar sekali mereka jalan. Sementara dalam sebulan mereka paling sedikit melakukan 4 kali pengiriman atau penyelundupan barang,” urai Gatot.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *