Dokter Keluarga ‘Milik Pemda’ Ini Sukses Cegah Stunting

METRO JAKARTA – Merujuk Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Tahun 2017, tercatat stunting pada balita di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) sebesar 26,1 persen. Angka ini menunjukkan bahwa balita di provinsi Kepri masih belum terbebas dari permasalahan gizi.

Sejak tahun 2011, Provinsi Kepri merasakan pengaruh stunting sebagai masalah nasisonal terhadap kesehatan dan produktivitas bangsa. Pemerintah daerah setempat menetapkan pencegahan stunting sebagai program prioritas.

“Gubernur, bupati, dan walikota bekerjasama dalam rangka mengentaskan kemiskinan, salah satu programnya adalah menurunkan stunting. Makanya MoU pun diteken untuk menurunkan stunting,” papar Kepala Dinas Kesehatan Kepri Tjejep Yudiana dalam dalam presentasi dan wawancara Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik tahun 2019 di Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB), Senin (9/9)

Intervensi yang dilakukan Pemprov Kepri antara lain mengangkat dokter keluarga. Tugasnya adalah melakukan pemeriksaan dari rumah ke rumah untuk melakukan pengukuran gizi buruk dan stunting. Haslinya, pada tahun 2018 angka gizi buruk di Provinsi Kepri menduduki peringkat terendah di tingkat nasional. Persentase gizi buruk di Provinsi Kepri 13 persen, sementara tingkat nasional masih 17 persen berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS).

Secara umum, tugas dokter keluarga dan dokter umum memang berbeda. Pendekatan yang dilakukan dokter keluarga adalah memastikan pasien yang sehat untuk tetap sehat.

Sementara dokter umum hanya menunggu kunjungan pasien. Dengan pendekatan ‘jemput bola’ dari dokter keluarga, penyakit yang masih memasuki stadium dini bisa dideteksi dan ditangani secepatnya. Dokter kesulitan menyembuhkan penyakit apabila pasien yang datang ke unit kesehatan sudah mengidap penyakit stadium lanjut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *