Dari Cilamaya untuk Indonesia, PLTGU Jawa 1 Bisa Putus Sejarah Kelam Black Out

METRO KARAWANG – Kejadian mati listrik massal atau blackout yang terjadi di jaringan listrik Jawa-Bali, awal Agustus 2019 kemarin, menyita perhatian publik. Masyarakat dari seluruh penjuru Indonesia cemas. Bahkan, isu menganai defisit listrik negara, membuat para investor di bumi ibu pertiwi, sempat ketar-ketir.

Maklum saja, akibat kejadian itu, tidak sedikit perusahaan di Indonesia yang mengalami kerugian. Tak sedikit yang mentaksir, jumlah kerugian mencapai ratusan miliar rupiah.

Sejarah mencatat, padamnya aliran listrik secara massal di Indonesia terjadi beberapa kali. Yakni pada April 1997, September 2002, Agustus 2005, dan yang terbaru pada 9 Agustus 2019 kemarin. Upaya perbaikan sistem kelistrikan negara pun terus digenjot PT PLN (persero). Agar sejarah kelam blackout, tak kembali terulang.

Salah satu bukti nyata, adalah dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Jawa-1, di Desa Cilamaya, Kecamatan Cilamaya Wetan, Karawang, Jawa Barat. Sebagai salah satu dari proyek 35.000 Mega Watt (MW). PLTGU Jawa-1, diprediksi, bakal menjadi  pemutus sejarah kelam blackout di Indonesia.

Tentang Jawa Satu Power

Mega proyek tersebut digarap oleh PT Jawa Satu Power (JSP), yang  merupakan perusahaan konsorsium dari PT Pertamina Power Indonesia (PPI), Marubeni Corporation dan Sojitz Corporation. Dengan total nilai investasi sebesar $ 2,5 miliar USD. PLTGU Jawa-1 bakal menghasilkan 1.760 mega watt listrik. Untuk dikonsumsi oleh 14 juta kepala keluarga, di seluruh Jawa-Bali hingga Pulau Madura.

Sementara, untuk pembangunan konstruksi. JSP menyerahkan pada EPC Consorsium, yang terdiri dari tiga perusahaan internasional. Seperti, General Electric (GE) dari USA, Samsung C&T (Samsung) dari Korea dan PT Meindo Elang Indah (Meindo), sebagai keterwakilan perusahaan lokal Indonesia. Ke tiga main contractor tersebut, juga bertanggung jawab untuk pemeliharaan pembangkit listrik tersebut, selama 25 tahun.

Terbesar Se-Asia Tenggara

Sebagai desa terpencil di ujung Karawang. Warga Desa Cilamaya, tak pernah menyangka. Jika mega proyek sekelas PLTGU Jawa-1, dibangun diantar lingkungan mereka yang padat penduduk.

Euforia warga setempat, menyambut pembangunan projek bernilai Rp. 26 triliun itu, sudah terjadi sejak pertengahan tahun 2017 lalu. Kini, proyek tersebut sudah masuk tahap konstruksi. Dimulai Desember 2018, PLTGU Jawa-1 diprediksi rampung September 2021. 

Sebagai bagian dari program 35.000 mega watt. Proyek PLTGU Jawa-1 digadang-gadang menjadi yang terbesar di Asia Tenggara.  Dibangun diatas lahan seluas 30 hektare, bakal objek vital nasional ini, dikerjakan oleh 20 perusahaan multi-internasional. Tak main-main, Negara adidaya seperti USA, Jepang hingga Korea. Turut andil dalam proses pembangunan PLTGU Jawa-1 di Cilamaya, Karawang.

Selain jadi yang terbesar. PLTGU Jawa-1 juga, menjadi satu-satunya pembangkit listrik dengan turbin gas paling efisien. Pembangkit listrik tersebut, memiliki tingkat emisi terendah, hanya 9HA.02. Terlebih lagi, pemeliharaannya di program untuk jangka panjang, yang meliputi digital solutions, commissioning and installation, parts, field and repair services. Sehingga, projek garapan PT Jawa Satu Power itu, di cap sebagai PLTGU tercanggih di dunia.

“Dengan tarif yang efisien, PLN berpotensi menghemat sebesar Rp 43 triliun,” kata Direktur Pengadaan Strategis PLN, Supangkat Iwan Santoso. Usai pelaksanaan Ground Breaking PLTGU Jawa-1, di Cilamaya, Karawang. Rabu, 19 Desember 2018.

Multiplier Effect Jawa-1

Kehadiran pembangkit listrik dengan teknologi combined-cycle Jawa-1 ini, diprediksi bakal menimbulkan Multiplier Effect. Pasalnya, jaringan listrik terbesar  Jawa-Bali itu, dibangun di lingkungan padat penduduk. 

Hal tersebut menjadikan PLTGU Jawa-1 unik. Paslanya, diantara pembangkit-pembangkit kecil lain di Jawa-Bali. PLTGU Jawa-1 merupakan proyek terbesar satu-satunya yang dibangun diantara lingkungan padat penduduk.

Proyek sepanjang 52 kilometer tersebut, melintasi Karawang-Bekasi, hingga Subang. Menara sutet PLTGU Jawa-1 yang berjumlah 118 unit, akan melintasi 14 kecamatan dan 39 desa di 3 kabupaten/kota yang berbeda.

Tantangan berat pun, harus dihadapi PT Jawa Satu Power selama tahapan konstruksi ini. Dimana, mereka harus benar-benar bisa mengelola masalah konflik sosial dan ekonomi yang akan terjadi, di beberapa daerah terdampak pembangunan.

“Memang benar, issu-issu social dan ekonomi di wilayah terdampak pembangunan, merupakan hal yang paling sering kami hadapi,” ungkap Affair Manager External, PT Jawa Satu Power, Tig Djulianto, kepada Karawang Bekasi Ekspres, Senin, 26 Agustus 2019.

Djulianto menjelaskan, Multiplier Effect yang dimaksud, diantaranya perubahan kultur sosial, serta euphoria masyarakat yang terkesan berlebihan dan sulit di bending, atas kedatangan proyek PLTGU Jawa-1 disana. Espektasi masyarakat yang terlalu tinggi, berdampak pada issu-issu sosial, dengan skala kerumitan yang tinggi pula. 

Tingkat kesenjangan terjadi. Kala sebagian kelompok yang kuat. Berhasil melompat lebih jauh. Meninggalkan sebagian kelompok besar lain, yang minim pengetahuan, pengalaman, bahkan kemampuan.

Selain itu, masalah-masalah lingkungan pun bermunculan. Dimana, tak sedikit warga disekitar proyek, yang notabene lingkungan pada penduduk. Mengggelar aksi unjuk rasa. Mereka protes, mereka terganggu. Dengan kebisingan, getaran dan mobilisasi yang cukup tinggi. Atas kehadiran PLTGU Jawa-1 di rumah mereka.

“Disetiap proyek ada resiko. Tapi, disisi lain, pasti ada dampak positifnya. Tergantung dari sudut mana, kita memandangnya,” kata Djulianto.

Analisi Dampak Lingkungan

Saat ini, konstruksi PLTGU Jawa-1 telah rampung 20 persen, (Agustus 2019). Namun, kajian terkait analisis dampak lingkungan terus dilakukan sejumlah pihak. Demi kelancaran pembangunan mega proyek tersebut. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *