Keterwakilan Perempuan Masih Minim

TAMBUN SELATAN – Jumlah Anggota DPRD Kabupaten Bekasi dari kaum perempuan tahun ini masih sedikit, yakni 9 orang dari periode sebelumnya sebanyak 6 dari orang dari total 50 anggota dewan.

Ini menjadi ironi, padahal pemerintah sudah memberikan kesempatan terbuka kepada kaum hawa untuk berkarya di bidang politik dengan aturan syarat minimum keterwakilan perempuan 30 persen dalam pemilu.

Kesembilan nama dara yang bakal mengisi DPRD Kabupaten Bekasi Periode 2019-2024. Yakni, Fatma Hanun (PKS), Ani Rukmini (PKS), Lydia (Gerindra), Repsih (Gerinda), Novy Yasin (Golkar), Yoyoh (Golkar), Angganita (Demokrat), Mia El Dabo (Demokrat) dan Martina Ningsih (PDI-P). (Lihat grafis,red)

Di dapil tiga yang meliputi Tambun Selatan sendiri tidak terdapat keterwakilan perempuan,  pasalnya petahana dari PPP yang dua periode duduk sebagai wakil rakyat, Nunung (PPP) harus tumbang tahun ini.  Artinya ketimpangan gender masih terjadi di Kabupaten Bekasi.

Pengamat Politik,  Agung Warja menyebut minimnya keterwakilan perempuan menandakan partai politik belum serius dalam pengkaderan perempuan. 

“Fenomena yang terjadi di Kabupaten Bekasi ini,  dalam proses perekrutan caleg,  perempuan hanya dijadikan pelengkap kouta persyaratan parpol,  namun parpol itu sendiri kurang memberikan pendampingan serius untuk kader perempuan,” ketus dia. 

Alhasil, minimnya keterwakilan perempuan di Kabupaten Bekasi ini akan berdampak pada kebijakan anggota dewan yang kurang berpihak kepada kaum hawa.

“Tentu ini akan berdampak kepada kebijakan,”tuturnya.

Seharusnya, sambung Agung, parpol harus memberikan pelatihan dan pendampingan kepada peserta pemilu khususnya kaum hawa. 

Anggota DPRD Kabupaten Bekasi baru, Repsih Munggawati berjanji akan merangkul semua golongan dan  tidak ada pengkotak-kotakan di tengah masyarakat Bekasi. 

“Ya sebagai kader Gerindra di DPRD Bekasi, saya akan merangkul semua golongan sehingga tidak ada pengkotak-kotakan di masyarakat,” kata dia.

Keterwakilan perempuan di parlemen, sambung dia, sangatlah penting dalam memperjuangkan hak-hak perempuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *