Ratusan Ribu Buruh Terancam Dirumahkan

**Akibat Upah Tinggi Bikin Pabrik Gulung Tikar, Disnaker Pun Harus Kerja Ekstra

CIKARANG PUSAT – Sekitar 130 ribu buruh di Kabupaten Karawang dan Bekasi terancam pemutusan hubungan kerja (PHK) atau dirumahkan. Penyebabnya, iklim perekonomian di dua daerah semakin sulit. Puluhan pabrik berbagai sektor kini sekarat, terutama pabrik garmen dan produk tekstil sebagai penyerap tenaga kerja berketerampilan rendah.

Hal itu tentu menuntut Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Bekasi bertindak cepat agar tidak gelombang PHK massal tak terjadi. Terlebih, Bupati Eka Supria Atmaja tengah konsen terhadap persoalan penggangguran terdidik dengan mendatangi delapan kawasan di wilayahnya untuk memprioritaskan tenaga kerja pribumi.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jabar Mohammad Ade Afriandi menyebutkan sepanjang 2015 hingga 2018 telah terjadi relokasi dan penutupan perusahaan padat karya tertinggi terjadi di Kabupaten Karawang dan Bekasi.

“Di dua kabupaten (Karawang dan Bekasi, red) saat ini hampir tidak terdapat pabrik garmen dan produk tekstil yang sebenarnya merupakan penyerap tenaga kerja berketerampilan rendah,” katanya, kemarin.

Menurut dia, jika tanpa kehatian-hatian pemerintah dalam mengambil kebijakan, salah satunya terkait upah, maka setidaknya 130 ribuan buruh di dua kabupaten tersebut dapat kehilangan pekerjaannya.

“Inilah yang saya maksud dengan dilematika upah minimum di Jawa Barat. Di satu sisi berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, di sisi lain telah mengancam eksistensi industri, terutama industri manufaktur padat karya,” papar Afriandi.

Selain itu, sambung dia, Kabupaten Bogor ada 54 pabrik bersiap gulung tikar karena terus naiknya upah pekerja. Ia pun memperkirakan bahwa masalah tersebut berdampak terhadap adanya PHK massal yang mencapai 64 ribu orang.

Tercatat upah minimum kabupaten/kota (UMK) berdasarkan keputusan Pemerintah Provinsi Jawa Barat tahun 2019 untuk Kabupaten Bogor sebesar Rp 3.763.405,88. Sedangkan Kota Bogor adalah Rp 3.842.785,54.

Tak hanya itu, Kabupaten Subang, Purwakarta, Bandung, Bandung Barat, dan Kota Bandung mengalami masalah yang sama.

“Di Subang terdapat 31 pabrik garmen, 5 pabrik telah tutup awal tahun 2019, meliputi 70 ribu pekerja,” sebut dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *