Ini Alasan Pemulung Tolak PLTSa Bantargebang

Editor:

Omzet yang didapat Sukardi dari penjualan sampah plastik berkisar Rp 75-100 ribu per hari. Sedangkan pengepul mampu mengantongi omzet hingga puluhan juta rupiah per bulan dari transaksi daur ulang menjadi bijih plastik.

Secara terpisah Kepala Unit Pengelola Sampah Terpadu (UPST) Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto, meminta para pemulung tidak resah dengan aktivitas PLTSa. “Kalau PLTSa di Bantargebang hanya berkapasitas sampah 50-100 ton per hari. Bila dibandingkan sampah Bantargebang yang masuk 7.500 ton per hari, jumlahnya masih sangat kecil,” kata dia.

Selain itu, PLTSa ini masih uji coba. Tidak seperti PLTSa berskala besar yang bisa menghabiskan sampah dalam jumlah yang banyak. PLTSa milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang bergulir sejak 25 Maret 2019 direncanakan selesai masa uji coba pada 2020 dan selanjutnya resmi beroperasi. (ant/hyt)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *