Ini Alasan Pemulung Tolak PLTSa Bantargebang

BANTARGEBANG – Sejumlah pemulung di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Bantargebang menilai fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Pasalnya, fasilitas itu mengancam kelangsungan mata pencarian mereka.

“Saya kalau ditanya, pasti akan jawab tidak setuju. Karena PLTSa ini kan bahan bakunya sampah plastik, sedangkan kami sangat membutuhkan sampah plastik yang dijual supaya bisa makan,” ujar Karya, 44, warga RW 03 Ciketing, Bantargebang, Bekasi, Kamis (1/8).

Menurut dia, ribuan pemulung saat ini menggantungkan hidup mereka pada sampah plastik di lima zona TPST Bantargebang. “Saya biasanya bisa ambil 50 sampai 200 kilogram sampah setiap hari,” kata dia

Pemulung lainnya, Sukardi, 51, mengaku resah dengan kehadiran PLTSa yang kini berdiri megah di sisi timur TPST Bantargebang. Area produksi listrik berbahan bakar sampah itu layaknya sebuah pabrik yang memiliki bermacam alat produksi pembakaran sampah berteknologi termal yang mengolah sampah secara cepat, serta menghasilkan produk samping listrik. “Sampah yang dibakar itu yang biasanya saya cari di sini. Misalnya, kemasan makanan, botol plastik, perabotan rumah tangga, atau kantong kresek,” kata dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *