Malam-Malam Nyai

Oleh: Faqih Mahfudz

Menjadi apa dan siapa pun aku di siang hari, di malam hari aku tetaplah seorang perempuan.

SIANG hari, kau bisa saja melihatku bagai sosialita karena dikelilingi istri-istri pejabat atau istri-istri pengusaha. Mereka ikut suaminya ke pesantren kami untuk memohon doa kepada Abah agar suaminya bisa menjadi bupati, agar menjadi gubernur, agar menjadi Kapolda, agar menjadi komisaris perusahaan, atau agar bisa memenangkan berbagai tender dari proyek-proyek besar di negeri ini.

Ada juga di antara mereka yang ikut suaminya untuk meminta doa, lebih tepatnya meminta dukungan, karena ingin menjadi calon wakil presiden. Padahal, pemilihan presiden masih lama. Dan, padahal, belum ada satu pun calon presiden yang melamar suami perempuan itu untuk menjadi wakilnya.

Maklum, pesantren kami memang satu-satunya pesantren besar di kabupaten ini. Bahkan, salah satu pesantren terbesar di provinsi ini. Sejak didirikan, umurnya sudah 273 tahun. Sudah beberapa generasi yang menjadi pengasuhnya. Santrinya 13.700 orang, putra dan putri. Belum lagi puluhan ribu alumnus yang tersebar di berbagai kabupaten dan provinsi.

Bisa kaubayangkan politikus mana yang tidak tergiur untuk datang ke pesantren ini?

Siang hari pula, di hadapanmu, mungkin aku benar-benar terlihat seperti seorang ningrat karena ditakzimi ibu-ibu wali santri yang anaknya tinggal dan belajar di pesantren kami. Atau, karena aku begitu dihormati masyarakat yang setiap hari silih berganti bersilaturahmi membawa persoalan masing-masing untuk diadukan kepada kami. Mereka tidak hanya datang dari berbagai pelosok desa, tapi juga dari berbagai kota. Begitulah, selain mengasuh pesantren dengan belasan ribu santri, Abah juga seorang kiai yang dirindukan petuah-petuahnya oleh umat.

Namun, kehormatan-kehormatan itu tak mampu menghapus laraku. Meski secara materi hampir tak ada satu pun yang kuimpikan lagi karena segalanya sudah terpenuhi. Rumah besar, perabot lengkap, juga santri-santri yang selalu siap membantu pekerjaan rumah kami: dari pekerjaan rumah yang berat seperti membuat bangunan baru hingga yang ringan-ringan seperti membersihkan perabot berdebu.

Mobil mewah dengan sopir yang selalu siaga mengantarku ke mana saja dan kapan saja. Belum lagi mobil-mobil mewah lainnya. Milik mereka yang secara sukarela mengizinkan, bahkan mengharap kendaraannya kami bawa ke mana saja dan kapan saja. “Agar harta dan kehidupan kami ikut tepercik keberkahan,” katanya.

Tanah kami pun berhektare-hektare luasnya, tersebar di mana-mana. Ada yang dibeli dengan uang kami sendiri. Ada pula pemberian tulus dari orangorang agar tanah itu dijadikan pesantren; baik yang selokasi atau sedesa dengan pesantren kami atau di desa lain, di kecamatan lain, di kabupaten lain, bahkan di provinsi lain.

Aku juga bisa berumrah kapan saja. Bukan hanya karena uang kami cukup, bahkan lebih kalau sekadar dibawa umrah. Tapi juga karena hampir selalu ada tamu-tamu kami yang datang ke sini, dengan kebaikan hati mereka, menawarkan diri untuk memberangkatkan kami ke Tanah Suci. Belum lagi, ada beberapa alumnus pesantren ini yang memiliki perusahaan perjalanan umrah. Kami juga bisa berhaji kapan saja. Tidak perlu antre belasan tahun sebagaimana orang-orang pada umumnya, karena Abah sudah dikenal para pejabat ring satu di Kementerian Agama.

Tapi, apa arti semua itu? Kebahagiaan hakiki tidak bergantung pada bendabenda. Tidak pula bergantung pada puja-puja.

Kini usiaku 40 tahun, sedangkan Abah 73 tahun. Itu berarti sudah 21 tahun kami menikah. Abah menikahiku saat beliau berusia 52 tahun, tepatnya ketika nyai sepuh, Nyai Sa’diyah, berpulang ke pangkuan Allah setelah berjuang melawan stroke yang dideritanya. Sedangkan aku, saat itu, hanyalah gadis 19 tahun di pesantren ini. Yang baru saja lulus dari madrasah aliyah, lalu diminta mengabdi sebagai salah satu pengajar di madrasah diniyah.

“Sum, berbahagialah. Kamu akan menjadi seorang nyai. Nyai besar, bahkan. Beruntung sekali dirimu. Beruntung sekali ayah, ibu, dan seluruh keluargamu. Seminggu lagi lamaran kiai akan sampai ke rumahmu. Anak-anak dalem sedang mempersiapkan segalanya,” Ustad Tsauri berkata kepadaku di kantor madrasah diniyah ketika ustad dan ustadah lain sudah pada pulang malam itu.

“Cie… Mbak Sum… Cie… Mau jadi bu nyai, nih ye…” sergah Nikmah saat aku baru masuk pintu bilik. Belum sempat kujawab, Odah tiba-tiba mendekatiku. ”Selamat ya, Mbakku, Bu Nyaiku,” ucapnya dengan mata yang haru, kemudian menciumi kedua pipiku.

Tak terasa, 21 tahun sudah semua itu berlalu. Ustad Tsauri sudah jadi kiai di kabupaten sebelah. Nikmah sudah ikut suaminya bekerja di Arab Saudi, yang sesekali kutemui bila aku sedang berumrah atau berhaji. Sedangkan Odah, dia pulang ke kampungnya di Jawa Barat. Dan, kini dia sudah menjadi pengusaha bisnis online yang sukses. Tak terasa, selama itu pula kuhadapi semua ini seorang diri. Lara ini. Air mata ini.

Kiai Halimi, kakak iparku yang usianya tiga tahun di atas Abah, memahami apa yang kurasakan, meski juga tak benarbenar mengerti apa yang sebenarnya kuinginkan. ”Sabar. Tidak ada manusia mandul di dunia ini. Yang ada hanyalah manusia yang belum dikaruniai oleh Allah. Yakinlah, bila masanya tiba, akan ada segumpal diri dalam dirimu, akan ada jiwa dalam jiwamu, akan ada janin yang ditiupkan Allah ke dalam rahimmu,” begitu dia meyakinkanku.

“Jiwailah Qur’an surat Maryam ayat 1 hingga 11. Di situ, termaktub sebuah kisah tentang Nabi Zakaria yang mengiba kepada Allah agar dikaruniai seorang putra. Saat itu Nabi Zakaria juga putus asa karena dia dan istrinya sudah renta. Bila melihat kondisi fisiknya, pupuslah harapan mereka untuk memiliki seorang putra. Namun, dengan kuasa Allah, dari hari ke hari rahim istri Nabi Zakaria mulai membesar, kemudian lahirlah darinya seorang bayi yang dinamainya Yahya, yang sebagaimana ayahnya kelak juga diangkat menjadi nabi oleh Allah,” ucap Nyai Azizah.

“Tenteramkan jiwamu, Yun. Bila Allah berkehendak, kau pasti punya anak,” tambahnya lagi. Nyai Azizah adalah adik bungsu Abah. Meski usianya lima tahun di atasku, dia tetap memanggilku Yunda. Panggilan sayang untuk kakak perempuan di kalangan keluarga pesantren kami.

Bila bertemu Kiai Halimi dan Nyai Azizah, hatiku benar-benar tenteram. Bagiku, keduanya adalah mata air kearifan yang mengucuri kerontang jiwaku. Tapi, itu tak kualami kalau berjumpa kerabat Abah yang lain.

“Asyik ya, punya anak. Ke mana-mana tidak hanya bersama santri khadam,” sindir Nyai Nung kemarin, saat kumpulkumpul keluarga besar pada acara halalbihalal di pesantren kami.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *