Kosmetika Politik

Oleh Candra Malik, Budayawan

JOKOWI, Megawati, dan Prabowo adalah pemain politik. Tapi, mereka tidak hanya bertiga. Ada Susilo Bambang Yudhoyono, Muhaimin Iskandar, Surya Paloh, Airlangga Hartarto, dan lain-lain. Hanya Jokowi yang bukan ketua umum, bukan pula petinggi partai politik.

Tapi, dialah presiden Republik Indonesia dan presiden terpilih untuk periode kedua. Sederhana? Tidak.

Politik tidak sesederhana bertemu di Stasiun MRT Lebak Bulus, bertukar gurauan di atas kereta yang melaju, lalu bersantap bersama di Sate Senayan. Tak bisa sekadar dikaitkan juga dengan perkeliran wayang kulit pada dinding di mana politisi berlatar, walaupun punakawan syahdan sarat pesan. Pilihan motif batik di tubuh para pembesar juga tak selamanya bisa dijadikan patokan analisis.

Surya Paloh yang mengundang Anies Baswedan lantas membuka peluang mendukung gubernur Jakarta itu untuk Pemilu 2024, layak diduga sedang memainkan kosmetika politik. Tidak lebih, tidak kurang. Sebab, sebagian dari tradisi politik adalah merias wajah sebelum berangkat ke pesta demokrasi. Resepsi masih lama, lima tahun lagi. Aneka kosmetik sudah dijajal sejak mula, sejak hari-hari ini.

Nasi goreng Megawati juga hanya gimmick. Tak akan bisa dijadikan pegangan untuk satu-dua bulan ke depan. Bahkan, sesuatu yang sudah paten pun masih mudah dicabut lagi lantaran tak pernah ada yang benar-benar pakem dalam politik.

Tak ada musuh abadi, tak ada kawan sejati. Semua pemain. Tanpa kecuali. Jadi, meski banyak analisis yang beredar, jangan mengambil kesimpulan terlalu pagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *