Kurang Bukti, Penjual Sempolan Tetap Dibui Seumur Hidup

Ahmad Sapuan alias Wawan, penjual sempolan yang dipenjara seumur hidup atas tuduhan pembunuhan akhirnya hanya bisa mengajukan grasi. Peninjauan kembali (PK) urung dilakukan karena kurangnya bukti.

Warga Kecamatan Jaken, Kabupaten Pati itu merasa dijebak karena dianggap ikut merencanakan pembunuhan yang dilakukan tersangka Supriyadi terhadap korban bernama Muhamad Rizal pada bulan Agustus 2014 lalu di Pati.

Pendiri Rumah Pancasila dan Klinik Hukum, Theodorus Yosep Parera memberikan bantuan hukum gratis kepada Wawan yang kini ditahan di Lapas Klas 1 A Kedungpane Semarang. Namun ia berusaha tidak gegabah dan mencari bukti untuk menguatkan.

Yosep mengatakan pihaknya melakukan langkah mendengarkan pengakuan Wawan, kemudian membaca berkas putusan sidang, kemudian menemui saksi-saksi termasuk Supriyadi yang disel di Nusakambangan.

“Yang agak aneh, saksi adalah kepolisian dari Resmob Pati. Walau tidak jadi dasar putusan, tapi itu jadi landasan tidak ada alat bukti untuk menjatuhkan putusan,” kata Yosep usai menemui Wawan di Lapas Kedungpane Semarang, Selasa (23/7/2019).

Dari ketrangan Wawan, ia mengaku saat kejadian pembunuhan ia tidur bersama kerabatnya di Jepara. Tim Yosep pun mendatangi para saksi dan mengumpulkan keterangan.

“Tim menemui saksi yang tidur sama Wawan di Jepara. Mereka mengakui tidur bersama Wawan saat kejadian. Dapat fakta hukum kuat untuk ajukan PK,” pungkasnya.

Kemudian timnya ke Nusakambangan untuk bertemu Supriyadi. Di sana Supriyadi keukeh Wawan terlibat saat pembunuhan terjadi karena berada di lokasi di hutan Mecon, Desa Kletek, Pucukwangi, Pati. Saat itu juga ada warga bernama Ngasiban yang sedang semedi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *